UIPUR

Perkuat Integrasi CBP Rupiah, Jembrana Dorong Literasi Rupiah Masuk ke Kurikulum Sekolah

30 September 2026 • oleh I Ngurah Gede Adi Putra

Perkuat Integrasi CBP Rupiah, Jembrana Dorong Literasi Rupiah Masuk ke Kurikulum Sekolah

Upaya memperkuat literasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah di kalangan pelajar terus diperluas melalui ekosistem pendidikan. Di Kabupaten Jembrana, Bank Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Jembrana mendorong agar pemahaman tentang Rupiah tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi terintegrasi dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut diperkuat melalui Focus Group Discussion (FGD) Integrasi dan Internalisasi Materi CBP Rupiah pada Kurikulum Satuan Pendidikan yang dilaksanakan pada 8–10 Juni 2026 di Lumbung Nirwana, Kabupaten Jembrana. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan implementasi Program Sekolah Rintisan CBP Rupiah sekaligus tindak lanjut arah kebijakan DPU terkait desain program CBP Rupiah.

FGD juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Jembrana yang telah ditandatangani pada 25 April 2025. Momentum tersebut semakin relevan menjelang pelaksanaan penilaian akhir semester siswa SD dan SMP, khususnya untuk mengevaluasi implementasi project based learning, pengisian rapor kokurikuler, serta memperkuat integrasi materi CBP Rupiah ke dalam kurikulum satuan pendidikan.

Memperkuat Implementasi di 30 Sekolah

FGD diikuti 32 peserta yang terdiri atas Pengawas Sekolah, Kepala Satuan Pendidikan, Guru Pembina Project, serta unsur pengawas pendidikan Kabupaten Jembrana. Kegiatan juga menghadirkan fasilitator dan pemangku kepentingan dari lingkungan pendidikan, termasuk Kepala Disdikpora Kabupaten Jembrana I Gusti Putu Anom Saputra, AP, M.Si., serta perwakilan pengawas pendidikan dari Kabupaten Jembrana dan Kota Denpasar.


Kepala Disdikpora Kabupaten Jembrana hadir dan membuka langsung kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan apresiasi terhadap sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Jembrana dalam mendukung penguatan literasi Rupiah melalui sektor pendidikan. Cenderamata juga diserahkan sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin.

Salah satu fokus utama FGD adalah mengevaluasi implementasi Project Based Learning yang telah diterapkan pada 30 sekolah, terdiri dari 15 SD dan 15 SMP. Evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana nilai-nilai CBP Rupiah telah diterjemahkan ke dalam proses pembelajaran dan kegiatan sekolah.

Selain evaluasi proyek, peserta juga memperoleh refreshment mengenai pemaknaan dan internalisasi nilai-nilai CBP Rupiah. Penguatan pemahaman ini menjadi penting agar materi yang disampaikan kepada peserta didik tidak sekadar mengenalkan Rupiah secara konseptual, tetapi mampu menumbuhkan sikap Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah dalam keseharian.

Belajar dari Praktik Baik Kota Denpasar

Penguatan program juga dilakukan melalui sesi sharing session praktik baik implementasi CBP Rupiah pada kurikulum satuan pendidikan. Pengawas Disdikpora Kota Denpasar memberikan gambaran mengenai pelaksanaan program yang telah berjalan di sekolah rintisan CBP Rupiah di Kota Denpasar.

Transfer pengetahuan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi sekolah-sekolah di Jembrana untuk melihat berbagai pendekatan yang dapat diterapkan sesuai karakteristik satuan pendidikan masing-masing. Dengan demikian, praktik baik tidak berhenti pada satu sekolah atau satu wilayah, tetapi dapat dikembangkan dan direplikasi sesuai kebutuhan daerah.

Praktik baik lainnya disampaikan melalui paparan Kepala SD Negeri 18 Pemecutan, Komang Adhi Suardita, S.Pd., M.Pd. Paparan tersebut memberikan contoh konkret bagaimana materi CBP Rupiah dapat diintegrasikan melalui pembelajaran intrakurikuler, budaya sekolah, hingga project based learning.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa edukasi Rupiah dapat dikembangkan secara lebih kontekstual. Peserta didik tidak hanya menerima materi, tetapi juga mendapatkan ruang untuk mengolah pengetahuan menjadi proyek, karya, maupun aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka.

Dari Pembelajaran hingga Rapor Kokurikuler

Selain memperkuat proses pembelajaran, FGD turut membahas evaluasi pengisian rapor kokurikuler dan executive summary project. Aspek ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem implementasi yang tidak hanya berjalan, tetapi juga dapat terdokumentasi dan dievaluasi secara lebih terstruktur.

Penguatan pengukuran juga memiliki relevansi dengan agenda pengukuran pemahaman CBP Rupiah yang dilakukan DPU. Kabupaten Jembrana merupakan salah satu wilayah survei pemahaman CBP Rupiah dalam rangka pengukuran ICK Pemahaman CBP Rupiah.

Sejalan dengan hal tersebut, implementasi penilaian pemahaman CBP Rupiah dalam rapor siswa SD dan SMP menjadi langkah strategis untuk melihat sekaligus memperkuat proses internalisasi nilai-nilai Rupiah kepada peserta didik.

Dengan adanya instrumen evaluasi, sekolah dapat memiliki gambaran yang lebih terukur mengenai perkembangan pemahaman peserta didik. Di sisi lain, hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk memperbaiki metode pembelajaran dan penguatan program pada tahap berikutnya.

Memanfaatkan Pembelajaran Digital

Transformasi pembelajaran juga menjadi bagian dari pembahasan dalam FGD. Peserta diperkenalkan dan didorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan platform digital BI-TEACH melalui biteach.id sebagai salah satu sarana edukasi CBP Rupiah.

Pemanfaatan media digital membuka ruang bagi materi CBP Rupiah untuk disampaikan dengan pendekatan yang lebih variatif dan sesuai dengan karakter peserta didik. Integrasi antara pembelajaran di kelas, proyek, budaya sekolah, dan sumber pembelajaran digital diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa.

Pada kesempatan yang sama, SMP Negeri 1 Melaya turut membagikan rancangan sekolah rintisan serta implementasi Project Based Learning. Berbagai pengalaman tersebut menjadi bahan diskusi untuk melihat bagaimana program dapat diterapkan secara konkret di tingkat satuan pendidikan.

Menjaga Keberlanjutan Sekolah Rintisan

Dukungan langsung Kepala Disdikpora Kabupaten Jembrana menjadi salah satu penguatan penting dalam keberlanjutan Program Sekolah Rintisan CBP Rupiah. Kolaborasi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah menjadi fondasi agar program tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.

Sebagai tindak lanjut, KPwBI Provinsi Bali bersama Disdikpora Kabupaten Jembrana akan memastikan keberlanjutan Program Sekolah Rintisan CBP Rupiah pada 10 sekolah rintisan, yang terdiri atas 5 SD dan 5 SMP. Integrasi materi CBP Rupiah ke dalam kurikulum satuan pendidikan juga akan terus diperkuat, disertai optimalisasi media pembelajaran digital melalui biteach.id.

Praktik-praktik baik yang telah dikembangkan juga akan didorong untuk direplikasi ke sekolah lainnya di Kabupaten Jembrana. Dengan demikian, pengalaman sekolah rintisan dapat menjadi pijakan bagi perluasan edukasi CBP Rupiah di lingkungan pendidikan yang lebih luas.

Menanamkan Nilai Rupiah Sejak dari Sekolah

Penguatan CBP Rupiah melalui sekolah pada akhirnya bukan hanya tentang mengenalkan mata uang kepada peserta didik. Lebih jauh, program ini menjadi bagian dari upaya menanamkan pemahaman mengenai Rupiah sebagai simbol kedaulatan dan bagian dari kehidupan berbangsa.

Melalui pembelajaran yang terintegrasi, proyek yang kontekstual, budaya sekolah, serta sistem evaluasi yang terukur, nilai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah diharapkan dapat tumbuh menjadi bagian dari perilaku peserta didik.

Sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Jembrana menjadi langkah penting dalam membangun model edukasi Rupiah yang berkelanjutan. Dari ruang kelas, proyek sekolah, hingga budaya satuan pendidikan, setiap proses menjadi ruang untuk #BeriMakna dalam menumbuhkan generasi yang semakin Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.