


05 Oktober 2026 • oleh I Ngurah Gede Adi Putra

DENPASAR - Rupiah tidak hanya hadir ketika masyarakat melakukan transaksi. Ia hadir di meja makan, di pasar, di sekolah, di kantor, di lingkungan banjar, hingga dalam berbagai aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. Karena itu, membangun kecintaan terhadap Rupiah juga membutuhkan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Berangkat dari semangat tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperluas komunikasi dan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah melalui berbagai kanal. Salah satunya dilakukan melalui media komunikasi cetak berupa spanduk edukasi CBP Rupiah yang dipasang di sejumlah titik strategis di Bali.
Langkah sederhana ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pesan CBP Rupiah secara lebih konsisten—bukan hanya ketika masyarakat mengikuti kegiatan edukasi, tetapi juga ketika mereka menjalani aktivitas sehari-hari.

Perbankan menjadi salah satu ruang strategis dalam penyebaran pesan CBP Rupiah. Setiap hari, masyarakat datang ke bank untuk melakukan berbagai aktivitas keuangan. Di ruang inilah pesan mengenai Rupiah dapat hadir secara natural dan berulang.
Melalui kolaborasi dengan jaringan perbankan, media spanduk CBP Rupiah ditempatkan pada berbagai kantor bank di wilayah Bali. Berdasarkan surat tujuan pengiriman, terdapat 120 titik pemasangan pada 48 bank, yang tersebar di Denpasar, Badung, dan Jembrana.
Salah satu kekuatan utama program ini adalah luasnya jejaring kolaborasi dengan industri perbankan.
Berdasarkan lampiran surat KPwBI Provinsi Bali, terdapat 48 bank yang menjadi tujuan penyampaian surat dan jaringan pemasangan spanduk CBP Rupiah.
Bank-bank tersebut meliputi:
PT Bank Negara Indonesia (Persero)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero)
PT Bank Central Asia
PT Bank Pembangunan Daerah Bali
PT Bank Oke Indonesia
PT Bank Mandiri Taspen
PT Bank Mandiri (Persero)
PT Bank Tabungan Negara (Persero)
PT Bank Maybank Indonesia
PT Bank CIMB Niaga
PT Panin Bank
PT Bank China Construction Bank Indonesia
PT Bank UOB Indonesia
PT Bank Mega
PT Bank KB Bukopin
PT Bank Artha Graha Internasional
PT Bank JTrust Indonesia
PT Bank Mayapada Internasional
PT Bank HSBC Indonesia
PT Bank Bumi Arta
PT Bank Maspion Indonesia
PT Bank DBS Indonesia
PT Bank Danamon Indonesia
PT Bank OCBC NISP
PT Bank MNC Internasional
PT Bank Permata
PT Bank Sahabat Sampoerna
PT Bank Syariah Indonesia
PT Bank Sinarmas
PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906
PT Bank Index Selindo
PT Bank Muamalat Indonesia
PT Bank of India Indonesia
PT Bank National Nobu
PT Bank KEB Hana Indonesia
PT Bank Ina Perdana
PT Bank Victoria International
PT Bank Shinhan Indonesia
PT Bank Mega Syariah
PT Bank Multiarta Sentosa
PT Bank Nano Syariah
PT Bank BTPN Syariah
PT Bank SMBC Indonesia
PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten
PT Bank IBK Indonesia
PT Bank Pembangunan Daerah Banten
PT Bank Ganesha
PT Bank Hibank Indonesia.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa edukasi Rupiah dapat diperkuat melalui ekosistem perbankan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Menariknya, jumlah titik pemasangan tidak sama pada setiap bank. BPD Bali dan BRI masing-masing memiliki 16 titik, sementara BCA, Mandiri, dan BNI masing-masing memiliki 10 titik berdasarkan lampiran distribusi pemasangan.
Dengan demikian, jaringan perbankan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur layanan keuangan, tetapi juga dapat menjadi kanal komunikasi publik untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai Rupiah.
Kehadiran spanduk tersebut menjadikan ruang layanan perbankan tidak hanya sebagai tempat bertransaksi, tetapi juga sebagai salah satu titik komunikasi publik mengenai pentingnya Rupiah.
Pesannya sederhana: Rupiah bukan sekadar alat pembayaran. Rupiah merupakan simbol kedaulatan negara dan identitas bangsa.
Pesan yang sederhana, tetapi jika terus hadir dan dilihat berulang kali, dapat membangun kesadaran secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah menjangkau lingkungan perbankan, edukasi CBP Rupiah diperluas ke ruang pendidikan.
Pemasangan media komunikasi dilakukan di sekolah-sekolah rintisan CBP Rupiah di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Jembrana. Sekolah dipilih bukan tanpa alasan. Pendidikan merupakan ruang strategis untuk membangun kebiasaan dan karakter sejak dini.

Di Denpasar, media edukasi menjangkau sekolah dasar dan SMP rintisan CBP Rupiah, antara lain SD Saraswati 6 Denpasar, SD Negeri 16 Kesiman, SD Negeri 9 Pedungan, SD Negeri 3 Sanur, SD Negeri 18 Pemecutan, SD Negeri 28 Dangin Puri, SD Negeri 10 Dauh Puri, dan SD Negeri 11 Padangsambian. Pada jenjang SMP, pemasangan menjangkau SMP PGRI 2 Denpasar, SMP Negeri 14 Denpasar, SMP Harapan, SMP Negeri 9 Denpasar, SMP Negeri 3 Denpasar, SMP Negeri 2 Denpasar, SMP PGRI 3 Denpasar, dan SMP Negeri 7 Denpasar.

Sementara di Kabupaten Badung, jaringan sekolah rintisan mencakup antara lain SD No. 1 Mengwitani, SD No. 4 Abiansemal, SD No. 3 Legian, SD No. 6 Kuta, SD No. 6 Tuban, SD Canggu Community School, SMP Negeri 1 Mengwi, SMP Negeri 3 Mengwi, SMP Negeri 5 Abiansemal, SMP Negeri 1 Kuta, dan SMP Negeri 3 Kuta.

Di Jembrana, media edukasi juga diarahkan ke sekolah-sekolah rintisan pada jenjang SD dan SMP. Daftar tujuan pengiriman antara lain mencakup SD Negeri 1 Baler Bale Agung, SD Negeri 1 Pekutatan, SD Negeri 2 Medewi, SD Negeri 1 Sangkaragung, SD Negeri 4 Lelateng, SD Negeri 3 Tegalcangkring, SD Negeri 5 Baluk, SD Negeri 3 Medewi, serta sejumlah SMP seperti SMP Negeri 1 Melaya, SMP Negeri 1 Mendoyo, SMP Negeri 1 Negara, SMP Negeri 4 Negara, SMP Negeri 6 Negara, SMP Negeri 2 Mendoyo, dan SMP Negeri 3 Melaya.
Dengan demikian, spanduk tidak berdiri sendiri sebagai materi publikasi. Ia menjadi bagian dari ekosistem Sekolah Rintisan CBP Rupiah.
Peserta didik yang sebelumnya mendapatkan edukasi melalui kegiatan tatap muka akan kembali menemukan pesan yang sama ketika berada di lingkungan sekolah. Pesan tersebut menjadi pengingat visual yang terus hadir dan memperkuat proses internalisasi.
Edukasi Rupiah tidak berhenti di bank dan sekolah.
Di tingkat masyarakat, sejumlah banjar di Bali juga menjadi bagian dari perluasan komunikasi CBP Rupiah. Pilihan banjar sebagai salah satu ruang penyampaian pesan memiliki arti penting karena banjar merupakan ruang sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat Bali.
Di ruang inilah berbagai kelompok usia bertemu, berinteraksi, dan menjalankan aktivitas sosial kemasyarakatan.
Karena itu, menghadirkan pesan CBP Rupiah di lingkungan banjar berarti membawa pesan tersebut semakin dekat dengan masyarakat—tidak hanya kepada pelajar, tetapi juga kepada keluarga dan komunitas tempat mereka tumbuh.
Dari sini, edukasi CBP Rupiah bergerak dari individu menuju keluarga, dari sekolah menuju komunitas, dan dari komunitas menuju masyarakat yang lebih luas.
Perluasan komunikasi tersebut semakin kuat dengan keterlibatan Edukator Dewata.
Edukator Dewata merupakan kolaborasi enam komunitas kepemudaan, yaitu Teruna Teruni Denpasar, FAD Denpasar, Jegeg Bagus Badung, FAD Badung, Forum GenRe Jembrana, dan Jegeg Bagus Jembrana, serta diperkuat oleh Pasikian Yowana Bali.
Keterlibatan komunitas anak muda menjadi penting karena generasi muda bukan hanya sasaran edukasi, tetapi juga dapat menjadi agen perubahan.
Mereka memiliki ruang interaksi yang luas dengan teman sebaya, keluarga, sekolah, komunitas, dan masyarakat. Ketika pesan CBP Rupiah dipahami oleh mereka, pesan tersebut memiliki peluang lebih besar untuk diteruskan melalui bahasa dan cara komunikasi yang dekat dengan generasi mereka.
Inilah yang membuat kolaborasi dengan Edukator Dewata memiliki nilai strategis. Bank Indonesia membawa substansi dan pesan kebijakan, sementara komunitas membantu membawa pesan tersebut lebih dekat kepada masyarakat.
Pada akhirnya, seluruh media komunikasi tersebut bermuara pada tiga nilai utama.
Cinta Rupiah berarti memperlakukan dan merawat Rupiah dengan baik.
Bangga Rupiah berarti menyadari bahwa Rupiah merupakan simbol kedaulatan sekaligus identitas bangsa Indonesia.
Sementara Paham Rupiah berarti memahami fungsi, karakteristik, dan bagaimana memperlakukan serta menggunakan Rupiah secara benar.
Ketiganya tidak cukup hanya diketahui. Nilai tersebut perlu terus dilihat, diingat, dibicarakan, dan dipraktikkan.
Karena itu, media komunikasi seperti spanduk memiliki fungsi yang lebih besar dari sekadar dekorasi atau publikasi kegiatan. Ia menjadi bagian dari pengingat publik yang bekerja setiap hari.
Kolaborasi pemasangan media edukasi CBP Rupiah ini memperlihatkan satu hal penting: edukasi Rupiah akan semakin kuat ketika dilakukan secara bersama-sama.
Bank Indonesia tidak bekerja sendiri.
Perbankan menjadi bagian dari kanal komunikasi. Sekolah menjadi ruang pembentukan karakter. Banjar menjadi ruang penguatan komunitas. Sementara generasi muda melalui Edukator Dewata dan Pasikian Yowana Bali menjadi penggerak yang membantu menyebarluaskan pesan kepada lingkungannya.
Setiap spanduk yang terpasang mungkin terlihat sederhana. Namun ketika pesan yang sama hadir di bank, sekolah, banjar, dan ruang komunitas, terbentuk sebuah ekosistem komunikasi yang saling terhubung.
Masyarakat melihat pesan yang sama di tempat yang berbeda. Anak-anak membacanya di sekolah. Orang tua menemukannya di lingkungan masyarakat. Nasabah melihatnya ketika datang ke bank. Generasi muda membawanya kembali ke komunitas.
Pesan yang sama, hadir di banyak ruang, dan terus dihidupkan oleh banyak orang.
Inilah semangat yang menjadikan edukasi Rupiah bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan bagian dari keseharian masyarakat Bali.
Sebab pada akhirnya, mencintai Rupiah bukan hanya tentang memegang dan menggunakannya.
Mencintai Rupiah adalah memahami maknanya.
Membanggakan Rupiah adalah menggunakan dan menjaganya.
Memahami Rupiah adalah ikut menjaga kedaulatan Indonesia.
Dari Pulau Dewata, pesan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah terus bergerak. 🇮🇩
Salam Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
#CBPRupiah #RUPADEWABali #EdukatorDewata #PasikianYowanaBali #SekolahRintisanCBPRupiah #BIBaliAsik #UIPURBali