


30 September 2026 • oleh I Ngurah Gede Adi Putra
.jpg)
DENPASAR — Edukasi tentang Rupiah tidak lagi berhenti pada materi pembelajaran di dalam kelas. Melalui Program Sekolah Rintisan Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, nilai-nilai Rupiah mulai diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang lebih dekat dengan dunia siswa: melalui proyek, karya kreatif, permainan, konten digital, hingga pembiasaan di lingkungan sekolah.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi Rupiah pada jenjang SD, SMP, hingga SMA di Bali. Melalui sinergi antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora), sekolah didorong untuk mengintegrasikan nilai CBP Rupiah ke dalam berbagai aspek pembelajaran dan kehidupan sekolah.
Salah satu bentuk nyata implementasi tersebut terlihat melalui Festival Karya CBP Rupiah yang diselenggarakan di Kota Denpasar. Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Rupiah dapat tumbuh melalui proses belajar yang kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan karakter generasi muda.

Semangat menghidupkan nilai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah tidak berhenti pada satu jenjang pendidikan. Dalam Program Sekolah Rintisan CBP Rupiah, implementasi dikembangkan secara bertahap dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
Festival Karya menjadi salah satu wadah yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam proses pembelajaran dan kreativitas siswa.

Pada Kamis, 16 April 2026, Festival Karya CBP Rupiah dilaksanakan di Auditorium SMA Negeri 5 Denpasar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari RUPADEWA (Rupiah Pesona Dewata) sekaligus rangkaian Championship CBP Rupiah 2026.
Kegiatan dihadiri oleh Kepala Disdikpora Provinsi Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia, S.T., M.Si., serta Kepala Divisi SPPURMI, Henry Nosih Saturwa.

Semangat yang sama kemudian berlanjut pada Kamis, 23 April 2026, melalui pelaksanaan Festival Karya di SMP PGRI 2 Denpasar. Kehadiran dua satuan pendidikan pada jenjang SMP dan SMA tersebut menunjukkan bahwa pendekatan kreatif dalam edukasi Rupiah dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan tingkat perkembangan peserta didik.

Sementara itu, pada jenjang SD, implementasi CBP Rupiah juga terus dikembangkan melalui integrasi materi ke dalam pembelajaran serta kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah.
Dengan demikian, Festival Karya menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas, yaitu membangun pembelajaran CBP Rupiah yang dapat tumbuh sejak pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Festival Karya CBP Rupiah memberikan ruang kepada siswa untuk mengolah pemahaman mereka menjadi karya yang dapat dilihat, dimainkan, digunakan, maupun menjadi media edukasi bagi orang lain.
Melalui pendekatan project-based learning, siswa tidak hanya menerima materi mengenai Rupiah, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan gagasan dan mencari cara kreatif untuk menyampaikan kembali pesan tersebut.

Di SMA Negeri 5 Denpasar, misalnya, beragam karya lahir dari proses pembelajaran tersebut. Siswa mengembangkan website edukasi, konten digital, celengan yang dirancang tanpa melipat uang, diorama, poster, hingga board game dan edugame berbasis web.
Beragam karya tersebut menunjukkan bahwa edukasi Rupiah dapat diterjemahkan melalui berbagai medium yang dekat dengan keseharian generasi muda.

Ada siswa yang memilih memanfaatkan teknologi digital. Ada pula yang menuangkan gagasan melalui karya visual, permainan edukatif, maupun karya fisik. Setiap karya menjadi cara yang berbeda untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya mengenal, menjaga, dan memahami Rupiah.

Di SMP Negeri 2 Denpasar, semangat yang sama diterapkan dalam konteks pembelajaran pada jenjang pendidikan menengah pertama. Festival Karya memberikan ruang kepada siswa untuk belajar melalui proses kreatif sekaligus menunjukkan bagaimana pesan CBP Rupiah dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman belajar di sekolah.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena siswa pada setiap jenjang memiliki karakteristik dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, implementasi CBP Rupiah tidak harus hadir dalam bentuk yang seragam, tetapi dapat disesuaikan dengan usia, minat, bakat, serta lingkungan belajar masing-masing sekolah.
Siswa tidak berjalan sendiri dalam menghasilkan karya. Para guru yang telah memperoleh pelatihan CBP Rupiah turut mendampingi siswa dalam menerjemahkan materi menjadi proyek yang relevan.

Pendampingan tersebut diperkuat melalui keterlibatan pemateri profesional, termasuk praktisi content creator. Para siswa memperoleh pembekalan mengenai strategi pembuatan konten, mulai dari mengenali berbagai jenis konten digital, membangun storytelling, hingga memanfaatkan platform digital.
Pembekalan tersebut memperkaya proses kreatif siswa. Mereka tidak hanya belajar mengenai apa yang ingin disampaikan, tetapi juga bagaimana menyampaikannya secara efektif.

Kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika edukasi Rupiah harus disampaikan kepada generasi yang semakin akrab dengan media digital.
Pada titik inilah siswa tidak lagi sekadar menjadi penerima informasi. Mereka mulai mengambil peran sebagai pembuat pesan edukasi Rupiah yang dapat menyampaikan nilai-nilai CBP kepada lingkungan sekitarnya.
Festival Karya merupakan salah satu bentuk implementasi dari program yang dikembangkan melalui empat pilar utama, yaitu intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan budaya sekolah.
Pada aspek intrakurikuler, materi CBP Rupiah mulai diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang relevan. Pada jenjang SD, salah satu praktik yang teridentifikasi adalah integrasi materi melalui mata pelajaran IPAS, sementara pada jenjang SMP dapat diintegrasikan melalui IPS.
Pada aspek kokurikuler, siswa memperoleh ruang untuk mengembangkan proyek berbasis CBP Rupiah. Proses ini memungkinkan siswa menghubungkan materi pembelajaran dengan permasalahan dan kehidupan sehari-hari.
Hasilnya kemudian dapat diwujudkan dalam berbagai karya kreatif seperti yang ditampilkan melalui Festival Karya.

Sementara itu, pada aspek ekstrakurikuler, sekolah mengembangkan kegiatan berdasarkan minat dan bakat siswa. Praktik baik yang teridentifikasi antara lain melalui Karya Ilmiah Remaja (KIR), pengembangan edugame CBP Rupiah, melukis, mendongeng, hingga Pramuka.
Adapun pada aspek budaya sekolah, penguatan dilakukan melalui kegiatan pembiasaan yang mendorong siswa untuk mengenal, menghargai, merawat, dan menggunakan Rupiah dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat pilar tersebut membuat edukasi CBP Rupiah tidak ditempatkan sebagai materi tambahan semata, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan di sekolah.
Di balik setiap karya yang ditampilkan, terdapat nilai yang ingin dibangun.
Cinta Rupiah hadir melalui pemahaman untuk merawat dan menggunakan Rupiah dengan baik.
Bangga Rupiah tumbuh melalui kesadaran bahwa Rupiah merupakan bagian dari identitas bangsa dan simbol kedaulatan Indonesia.
Sementara Paham Rupiah menjadi bekal bagi generasi muda untuk memahami Rupiah dan penggunaannya di tengah perkembangan ekonomi serta transformasi digital.
Ketiga nilai tersebut kemudian tidak hanya berhenti sebagai konsep, tetapi diterjemahkan menjadi karya yang dapat dinikmati dan dipahami oleh orang lain.

Sebuah donat dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan. Sebuah permainan dapat menjadi sarana belajar. Website dan konten digital dapat menjangkau teman sebaya. Bahkan sebuah celengan dapat dirancang untuk sekaligus mengajarkan cara memperlakukan uang Rupiah dengan baik.
Di sinilah Festival Karya menjadi menarik. Siswa tidak hanya menjadi penerima edukasi, tetapi ikut mengambil peran sebagai kreator dan penyampai pesan edukasi Rupiah.
Pelaksanaan Festival Karya di Provinsi Bali merupakan bagian dari proses yang lebih luas dalam pengembangan Program Sekolah Rintisan CBP Rupiah.

Sebagai tindak lanjut implementasi program, dilakukan pendampingan kepada sekolah dalam pengisian Rapor Implementasi CBP Rupiah dan penyusunan Executive Summary Pilot Project.
Fasilitator yang berasal dari Pengawas Sekolah melakukan asistensi untuk menyamakan persepsi mengenai substansi program, mekanisme pengisian, serta eviden pendukung yang diperlukan.
Sekolah kemudian diarahkan untuk mendokumentasikan implementasi pada empat pilar, mencakup output, outcome, dokumentasi kegiatan, dan inovasi.
Berbagai eviden mulai dihimpun, antara lain modul ajar, karya siswa, dokumentasi kegiatan, serta publikasi sekolah.

Proses tersebut memberikan gambaran mengenai beragam praktik baik yang telah berkembang di sekolah rintisan. Pada saat yang sama, proses pendampingan juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi tantangan yang masih perlu diperkuat.
Implementasi CBP Rupiah di sekolah masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah perbedaan tingkat pemahaman guru dalam mengintegrasikan materi CBP Rupiah ke dalam proses pembelajaran. Selain itu, keterbatasan waktu juga menjadi tantangan karena implementasi harus berjalan di tengah padatnya agenda sekolah.

Aspek monitoring dan evaluasi juga masih perlu diperkuat agar keberlanjutan program dapat diukur secara lebih sistematis.
Berbagai tantangan tersebut menjadi bagian penting dari proses pilot project. Pengalaman sekolah selama menjalankan program dapat menjadi bahan evaluasi untuk menyusun model implementasi yang lebih terstruktur dan dapat diterapkan secara lebih luas.
Ke depan, penguatan Program Sekolah Rintisan CBP Rupiah diarahkan melalui Workshop Pengembangan Kurikulum CBP Rupiah yang melibatkan Bank Indonesia, Disdikpora, kepala sekolah, guru, serta pemangku kepentingan terkait.

Workshop tersebut diarahkan untuk merancang kerangka implementasi CBP Rupiah yang terintegrasi pada empat pilar, sekaligus memperkuat perangkat ajar, proyek pembelajaran, instrumen monitoring dan evaluasi, serta indikator capaian yang terukur.
Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan program tidak berhenti pada tahap pilot project maupun kegiatan Festival Karya. Sebaliknya, praktik baik yang telah berkembang dapat dikembangkan menjadi model literasi Rupiah yang berkelanjutan, terukur, dan replikatif.
Dengan model yang semakin terstruktur, pengalaman dari sekolah rintisan dapat menjadi pembelajaran bagi satuan pendidikan lainnya untuk mengembangkan pendekatan serupa sesuai karakteristik masing-masing.
Festival Karya CBP Rupiah pada akhirnya bukan hanya tentang karya yang dipamerkan.
Di balik website, poster, board game, diorama, konten digital, hingga berbagai karya kreatif siswa, terdapat proses pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan, kreativitas, kolaborasi, dan karakter kebangsaan.

Dari SD, SMP hingga SMA, edukasi Rupiah mendapatkan ruang untuk tumbuh sesuai dengan usia dan karakter peserta didik. Guru menjadi pendamping, sekolah menjadi ekosistem pembelajaran, sementara siswa memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian aktif dalam menyampaikan pesan tentang Rupiah.
Sinergi antara Bank Indonesia dan dunia pendidikan menjadi fondasi penting dalam proses tersebut. Dukungan Disdikpora Provinsi Bali dan Disdikpora Kota Denpasar, bersama sekolah dan para guru pembina, menunjukkan bahwa penguatan CBP Rupiah membutuhkan gerakan bersama.
Sebab, ketika siswa tidak hanya mampu menjelaskan tentang Rupiah, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan tersebut menjadi karya dan membagikannya kepada orang lain, edukasi Rupiah telah bergerak dari sekadar materi pembelajaran menjadi pengalaman yang memiliki makna.

Dari ruang kelas hingga panggung Festival Karya, dari SD, SMP hingga SMA, semangat #BeriMakna terus tumbuh untuk membentuk generasi muda yang kreatif, cerdas, dan berkarakter—generasi yang semakin Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.