UIPUR

Edukator Dewata 2026: Membekali Generasi Muda untuk Perluas Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah

30 September 2026 • oleh I Ngurah Gede Adi Putra

Edukator Dewata 2026: Membekali Generasi Muda untuk Perluas Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah

DENPASAR — Edukasi mengenai Rupiah membutuhkan lebih dari sekadar penyampaian informasi. Di tengah karakter generasi muda yang semakin dekat dengan komunitas, media sosial, dan ruang digital, pesan mengenai Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah perlu disampaikan dengan cara yang komunikatif, kreatif, dan relevan.

Semangat tersebut menjadi bagian dari penguatan Edukator Dewata Angkatan Tahun 2026 melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah yang diselenggarakan pada Minggu, 24 Mei 2026 di Balai Bahasa Provinsi Bali, Denpasar.
Kegiatan yang merupakan bagian dari RUPADEWA (Rupiah Pesona Dewata) tersebut menjadi langkah awal pembekalan sekaligus konsolidasi Edukator Dewata 2026 untuk memperluas jangkauan edukasi CBP Rupiah kepada generasi muda di Bali.

Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari enam komunitas, yaitu Teruna Teruni Denpasar, Forum Anak Daerah Denpasar, Jegeg Bagus Badung, Forum Anak Daerah Badung, Jegeg Bagus Jembrana, dan GenRe Jembrana, serta para finalis Duta Muda CBP Rupiah Championship 2026.

Keberagaman latar belakang peserta menjadi modal penting untuk membangun jaringan edukator muda yang memiliki akses langsung ke berbagai komunitas dan lingkungan generasi muda di Bali.

Memahami Rupiah Sebelum Menyampaikan Pesannya

Tahap pertama dalam pembekalan Edukator Dewata adalah memastikan peserta memiliki pemahaman yang kuat mengenai nilai-nilai CBP Rupiah.

Melalui materi yang disampaikan oleh Made Tamar Martana Yasa dari Bank Indonesia Bali, peserta mendapatkan penguatan mengenai makna Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.
Pembahasan tidak hanya mencakup pemahaman Rupiah sebagai alat pembayaran, tetapi juga menempatkan Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa dan alat pemersatu masyarakat Indonesia.

Peserta juga memperoleh pengenalan mengenai ciri keaslian uang Rupiah melalui metode 3D: Dilihat, Diraba, Diterawang.
Materi dikemas secara interaktif dan dilanjutkan dengan permainan edukatif. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta sekaligus memperkuat pemahaman terhadap materi yang nantinya akan mereka sampaikan kembali kepada masyarakat.
Hal ini menjadi penting karena seorang edukator tidak hanya dituntut mampu berbicara di hadapan audiens, tetapi juga perlu memiliki pemahaman substansi yang kuat agar pesan yang disampaikan tetap tepat dan mudah dipahami.

Dari Edukator Menjadi Komunikator

Setelah memperoleh penguatan substansi, peserta dibekali kemampuan untuk mengemas pesan agar dapat diterima oleh audiens yang lebih luas.

Melalui sesi “Creative Storytelling: Seni Menyampaikan Pesan Lewat Konten Digital”, Content Creator Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha membekali peserta dengan berbagai keterampilan komunikasi.
Mulai dari public speaking, storytelling, pengembangan konten kreatif, hingga strategi optimalisasi media sosial, peserta diajak memahami bagaimana sebuah pesan dapat dikemas menjadi konten yang menarik sekaligus memiliki nilai edukasi.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan karena generasi muda tidak hanya menerima informasi melalui ruang kelas atau forum tatap muka. Media sosial telah menjadi salah satu ruang utama untuk memperoleh, mengolah, dan membagikan informasi.
Karena itu, Edukator Dewata didorong untuk mampu mengadaptasi pesan CBP Rupiah ke dalam format komunikasi yang sesuai dengan karakter audiensnya.
Pesan mengenai Rupiah dapat hadir melalui video pendek, cerita, permainan, diskusi komunitas, maupun berbagai bentuk konten digital lainnya.
Dengan kemampuan tersebut, edukator muda diharapkan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga menjadi komunikator yang mampu membangun keterlibatan audiens.

Mengenal QRIS dan Perubahan Cara Bertransaksi

Penguatan kapasitas Edukator Dewata juga mencakup pemahaman mengenai perkembangan sistem pembayaran digital.
Dalam sesi mengenai QRIS, peserta memperoleh pemaparan dari Haekal Dzaky dari Bank Indonesia Bali mengenai pembayaran digital sebagai bagian dari perkembangan ekosistem transaksi.


Pembahasan tersebut memperluas perspektif peserta bahwa literasi Rupiah juga perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai perilaku transaksi yang aman dan efisien di era digital.
Generasi muda sebagai salah satu kelompok yang aktif menggunakan layanan digital memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan bertransaksi yang bijak.
Karena itu, edukasi mengenai Rupiah tidak hanya berbicara mengenai uang tunai, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat memahami perkembangan cara bertransaksi dan menggunakannya secara tepat.

MAPLESIRAN: Membawa Edukasi Rupiah Lebih Dekat ke Komunitas

Salah satu bagian penting dalam ToT Edukator Dewata 2026 adalah pengenalan arah program melalui gerakan MAPLESIRAN — Mengenal Rupiah, Lestarikan Persatuan dan Kebudayaan.
Melalui pemaparan Ketut Satya Pramana dan Kadek Bagus Padmaningrat, peserta diperkenalkan dengan konsep penguatan edukasi berbasis komunitas dan banjar.


Pendekatan tersebut membuka ruang bagi Edukator Dewata untuk membawa pesan CBP Rupiah lebih dekat dengan lingkungan tempat generasi muda berinteraksi dan beraktivitas.
Banjar dan komunitas menjadi ruang sosial yang memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Bali. Karena itu, edukasi yang dibangun melalui pendekatan komunitas diharapkan dapat berkembang secara lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Melalui MAPLESIRAN, Edukator Dewata tidak hanya diarahkan untuk menyampaikan materi, tetapi juga mengembangkan berbagai aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter masyarakat di wilayah masing-masing.

Dari Pembekalan Menuju Aksi

Pembekalan melalui ToT menjadi fondasi awal. Namun, perjalanan Edukator Dewata tidak berhenti pada satu hari pelatihan.
Beberapa bulan kemudian, pengembangan kapasitas tersebut dilanjutkan melalui Forum Pengembangan Kapasitas dan Engagement Edukator Dewata Angkatan 2026 pada 26 September 2026 di Waterbom Bali dan Hotel Anvaya, Kabupaten Badung.
Kegiatan yang dibuka oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Bapak Irwan, tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kembali wawasan, keterampilan komunikasi, kreativitas, sekaligus engagement antarpeserta.
Forum ini diikuti oleh Duta Muda CBP Rupiah dan Edukator Dewata Tahun 2026 dan dikemas melalui rangkaian Aqua Insight dan Team Building Edukator Dewata 2026.


Jika ToT menjadi ruang untuk membangun fondasi pengetahuan dan keterampilan, forum September menjadi momentum untuk mengembangkan, mengevaluasi, dan memperkuat kesiapan edukator dalam menjalankan perannya di lapangan.

Memperkuat Semangat Kebangsaan

Dalam forum tersebut, peserta kembali diajak melihat Rupiah dari perspektif yang lebih luas melalui sesi “Rupiah dalam Semangat Kebangsaan” yang disampaikan oleh Letnan Kolonel Inf Wayan S.


Sesi ini memperkuat pemahaman mengenai keterkaitan Rupiah dengan identitas bangsa, nasionalisme, dan semangat kebangsaan.
Perspektif tersebut menjadi bekal bagi edukator agar mampu menyampaikan pesan CBP Rupiah tidak hanya dari sisi pemahaman terhadap uang Rupiah, tetapi juga dari sisi nilai kebangsaan yang melekat di dalamnya.
Dengan demikian, pesan mengenai Rupiah dapat menjadi pintu masuk untuk mengajak generasi muda memahami pentingnya menjaga identitas dan persatuan bangsa.

Mengasah Komunikasi dan Kreativitas

Kemampuan komunikasi yang sebelumnya diperkenalkan dalam ToT kembali diperdalam melalui sesi Public Speaking bersama Kak Chanda.
Peserta memperoleh penguatan mengenai kemampuan berbicara di depan umum agar dapat menyampaikan pesan secara komunikatif, percaya diri, dan mudah diterima masyarakat.
Sementara itu, melalui sesi “Speak, Create, Inspire Content”, Pande alias Bli Azril mengajak peserta mengembangkan kreativitas dalam membuat konten yang relevan dengan generasi muda.


Dua kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena edukasi CBP Rupiah kini dapat hadir melalui berbagai ruang, baik tatap muka maupun digital.
Edukator Dewata diharapkan mampu memilih pendekatan yang sesuai dengan audiens sekaligus mengubah pesan edukasi menjadi konten yang menarik, inspiratif, dan mudah dibagikan.

Evaluasi untuk Edukasi yang Lebih Berdampak

Pengembangan edukator juga dilengkapi dengan sesi “Motivasi & Evaluasi Edukator Dewata” yang disampaikan oleh Bapak Henry Nosih Saturwa.


Sesi tersebut menjadi ruang untuk menjaga semangat, mengevaluasi perjalanan, serta memperkuat konsistensi dan komitmen Edukator Dewata dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari ekosistem edukasi CBP Rupiah Bank Indonesia Bali.
Selain evaluasi terhadap peran edukator, peserta juga mendapatkan masukan mengenai efektivitas pelaksanaan kegiatan edukasi dari Pengawas dan Fasilitator Disdikpora Denpasar.


Salah satu poin yang ditekankan adalah pentingnya menyediakan instrumen evaluasi, seperti survei, untuk mengetahui tingkat pemahaman, relevansi materi, serta respons peserta terhadap kegiatan edukasi.
Dengan adanya evaluasi yang terukur, edukasi CBP Rupiah dapat terus diperbaiki dan dikembangkan agar semakin tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih nyata.

Belajar Bersama, Bertumbuh Bersama

Penguatan kapasitas tidak hanya dilakukan melalui materi. Rasa kebersamaan dan kekompakan antaredukator juga menjadi bagian penting dalam membangun jejaring.
Melalui rangkaian Team Building, peserta mengikuti berbagai aktivitas yang mendorong interaksi dan kerja sama, termasuk The Running Man.


Suasana yang interaktif memberikan ruang bagi peserta untuk saling mengenal, membangun kepercayaan, serta memperkuat hubungan antarpeserta.
Hal ini menjadi modal penting karena Edukator Dewata berasal dari berbagai komunitas dan memiliki jaringan masing-masing. Ketika jejaring tersebut semakin kuat, peluang untuk berkolaborasi dalam menghadirkan inovasi edukasi Rupiah juga semakin terbuka.

Membangun Ekosistem Edukator Muda di Bali

Rangkaian kegiatan sejak ToT hingga forum pengembangan kapasitas menunjukkan bahwa membangun edukator muda merupakan sebuah proses yang berkelanjutan.
Pengetahuan mengenai CBP Rupiah menjadi fondasi. Kemampuan komunikasi dan kreativitas menjadi bekal untuk menyampaikan pesan. Sementara evaluasi dan engagement menjadi bagian penting untuk memastikan para edukator terus berkembang.
Dari ruang pelatihan, komunitas, banjar, hingga media digital, Edukator Dewata memiliki peluang untuk membawa pesan Rupiah ke semakin banyak kelompok masyarakat.


Setiap komunitas memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, pendekatan edukasinya pun dapat berkembang sesuai kebutuhan masing-masing, mulai dari kegiatan edukasi, aktivitas kreatif, kampanye digital, hingga kegiatan berbasis komunitas dan banjar melalui semangat MAPLESIRAN.
Keragaman pendekatan tersebut justru menjadi kekuatan dalam memperluas jangkauan literasi CBP Rupiah di Bali.

Edukator Dewata, Penggerak #BeriMakna

Perjalanan Edukator Dewata Angkatan 2026 menunjukkan bahwa penguatan literasi Rupiah tidak berhenti pada penyampaian materi. Dibutuhkan proses untuk membekali, mengasah, mengevaluasi, dan menggerakkan generasi muda agar mampu menjadi bagian dari perubahan.
Melalui ToT pada Mei, peserta memperoleh fondasi mengenai CBP Rupiah, komunikasi, kreativitas digital, QRIS, serta pendekatan edukasi berbasis komunitas. Selanjutnya, melalui Forum Pengembangan Kapasitas dan Engagement pada September, kemampuan tersebut diperkuat melalui wawasan kebangsaan, public speaking, pengembangan konten, evaluasi, serta team building.
Seluruh rangkaian tersebut diarahkan pada satu tujuan: membangun ekosistem edukator muda yang mampu memperluas jangkauan edukasi Rupiah di Bali.


Sebab, menjaga Rupiah bukan hanya tentang memahami bentuk dan ciri keasliannya. Lebih dari itu, dibutuhkan kesadaran untuk mencintai, menghargai, memahami, dan menggunakan Rupiah secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika generasi muda mengambil peran untuk menyampaikan pesan tersebut kepada generasi muda lainnya, edukasi Rupiah tidak lagi berjalan satu arah. Ia tumbuh menjadi gerakan bersama.
Dari Edukator Dewata untuk Bali, semangat #BeriMakna terus bergerak—berbicara, berkarya, menginspirasi, mengenal Rupiah, melestarikan persatuan dan kebudayaan, serta bersama-sama memperkuat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah.