


11 Agustus 2026 • oleh I Ngurah Gede Adi Putra

Langit Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, kembali semarak oleh warna-warni layang-layang dalam Rare Angon Festival 2026. Di tengah perayaan budaya yang mempertemukan komunitas layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali turut hadir membawa pesan tentang Rupiah, transaksi digital, dan pelindungan konsumen.
Digelar pada 23–26 Juli 2026, festival ini menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, kreativitas, pariwisata, dan persahabatan lintas negara.

Kehadiran Bank Indonesia dalam Rare Angon Festival tidak sekadar menjadi bagian dari kemeriahan acara. Momentum budaya tersebut dimanfaatkan untuk menghadirkan edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat melalui kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah, perluasan penggunaan QRIS, serta edukasi Pelindungan Konsumen.
Pendekatan berbasis budaya membuat pesan kebanksentralan hadir dalam suasana yang lebih ringan dan menyenangkan, sekaligus menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang.

Rangkaian festival diawali dengan International Kite Flying pada 23 Juli 2026. Sekitar 105 peserta dari 23 negara turut ambil bagian, di antaranya dari Italia, Belanda, Swedia, Australia, Jepang, Malaysia, serta berbagai negara lainnya.
Dari Indonesia, komunitas layang-layang dari Surabaya, Yogyakarta, Sleman, Jakarta, Sulawesi, dan sejumlah daerah lainnya turut hadir. Beragam bentuk dan warna layang-layang kemudian menghiasi langit Pantai Mertasari, menciptakan pemandangan yang sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi bahasa universal.
Selama empat hari, Rare Angon Festival juga menghadirkan berbagai atraksi, mulai dari layang-layang tradisional Bali, Puppet Kite Flying, Night Flying, hingga kompetisi layang-layang tradisional memperebutkan Piala Bergilir Wali Kota Denpasar.
Beragam lomba seperti Sunari, Pindekan, dan Kober, pertunjukan Baleganjur, hingga hiburan musik turut melengkapi rangkaian festival.

Di antara ratusan layang-layang yang memenuhi langit, hadir pula Layang-Layang Rupiah yang membawa identitas Bank Indonesia, maskot Rupiah, serta pesan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah dan QRIS.
Layang-layang tersebut menjadi media komunikasi publik yang unik. Pesan tentang Rupiah tidak disampaikan melalui ruang kelas atau forum formal, tetapi hadir di tengah masyarakat dan wisatawan yang menikmati festival.
Melalui momentum tersebut, masyarakat diajak mengenal Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa, bangga menggunakannya dalam transaksi, serta memahami pentingnya menjaga kualitas Rupiah melalui prinsip 5J: Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Dibasahi, dan Jangan Distapler.
Di saat yang sama, masyarakat juga diperkenalkan dengan kemudahan transaksi digital menggunakan QRIS sebagai bagian dari perkembangan sistem pembayaran Indonesia.

Pesan edukasi kemudian dibawa lebih dekat kepada generasi muda melalui Workshop Pembuatan Layang-Layang pada 24–25 Juli 2026.
Berlangsung di Panggung Utama Rare Angon Festival dan kawasan Muntig Siokan, kegiatan ini mengajak anak-anak membuat layang-layang sekaligus mengenal nilai-nilai CBP Rupiah, manfaat QRIS, serta cara sederhana menjaga uang Rupiah.
Belajar sambil berkarya membuat edukasi terasa lebih dekat. Tangan anak-anak sibuk merangkai layang-layang, sementara pesan tentang Rupiah, transaksi digital, dan kebiasaan menjaga uang diperkenalkan melalui aktivitas yang mereka sukai.

Tidak hanya melalui layang-layang dan workshop, Bank Indonesia juga menghadirkan Booth Edukasi yang menjadi ruang interaksi langsung dengan pengunjung.
Di booth tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai CBP Rupiah, QRIS, dan Pelindungan Konsumen. Pengunjung juga diajak mengenali ciri keaslian Rupiah, memahami transaksi digital yang aman, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan dan kejahatan keuangan digital.
Dengan pendekatan yang interaktif, edukasi tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi membuka ruang bagi masyarakat untuk bertanya, mencoba, dan memahami secara langsung.

Partisipasi KPwBI Provinsi Bali dalam Rare Angon Festival 2026 memperlihatkan bagaimana ruang budaya dapat menjadi bagian dari edukasi publik.
Layang-Layang Rupiah menjadi simbol yang menghubungkan pesan kebangsaan dengan kreativitas. Workshop menjadi ruang belajar bagi generasi muda. Sementara booth edukasi membuka kesempatan bagi masyarakat untuk lebih mengenal Rupiah, QRIS, dan pentingnya pelindungan konsumen.
Semua hadir dalam satu ruang yang sama: festival budaya Bali.

Rare Angon Festival bukan hanya tentang layang-layang yang memenuhi langit. Di dalamnya terdapat cerita tentang bagaimana tradisi terus hidup, kreativitas terus berkembang, dan pesan-pesan baru dapat hadir tanpa meninggalkan akar budaya.
Melalui momentum ini, nilai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat, sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai transaksi digital dan pelindungan konsumen.
Dari Pantai Mertasari, pesan itu kemudian terbang bersama layang-layang—membawa semangat untuk terus melestarikan budaya Bali, mencintai Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa, menggunakan QRIS dengan bijak, dan menjadi konsumen yang semakin cerdas di era digital.

#BeriMakna bersama Rupiah dan budaya Bali. 🪁💙